Sunday, June 25, 2017

Bullying, Pembunuh Kebebasan dan Karakter Kemanusiaan

Semakin modern, kita, generasi penerus bangsa, malah semakin terpuruk. Moral yang hampir tidak tampak lagi keberadaannya, juga sikap respect terhadap sesama. Salah satunya, bullying, kasus yang dialami hampir semua anak. Entahlah, ini kesalahan globalisasi atau takdir yang sedang berbicara.
Apa yang terbesit di pikiranmu ketika mendengar kata ‘bullying’? Kekerasan fisik? Ya, tapi, kekerasan fisik bukanlah satu-satu nya yang terjadi dalam kasus-kasus bullying yang ‘membunuh’. Kata-kata yang menyakitkan juga termasuk salah satu kasus bullying. Kita semua disini pasti pernah mengolok-olok teman kita dengan kata-kata yang kurang pantas, baik secara langsung, ataupun tidak. Namun, apakah kalian tahu rasanya menjadi dia? Mungkin kalian merasa kalian tahu, tapi, kalian tidak pernah berpikir tentang perasaan dia.
Ada beberapa alasan mengapa bullying terjadi di kalangan sekolah (sebenarnya, tidak hanya di sekolah, di hampir semua lingkungan sosial). Yang pertama, karena korban mungkin melakukan suatu kesalahan, yang sangat berpengaruh bagi lingkungannya. Walaupun, itu bukan kesalahan dia sepenuhnya. Everyone makes mistakes, tetapi kita hidup bukan untuk kesalahan, kita hidup untuk memperbaiki kesalahan itu. Kamu boleh menyiapkan 100 kantung muntah setelah membaca ini, tapi, inilah kenyataannya.
                Yang kedua, si tukang bully yang ‘gila’ akan kepopuleran. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan kepopuleran. Dengan begitu, dia mungkin merasa kalau dia itu kuat dan berkuasa atas yang semua murid, otomatis, dia merasa dia dikenal semua orang dan juga diperhatikkan semua orang. Padahal, kenyataannya berbeda. Dia malah tidak disukai.
          Penampilan yang berbeda juga mengundang beberapa orang untuk menghakimi kita. Tidak ada salahnya untuk memiliki penampilan yang berbeda. Dengan menjadi berbeda, kamu sudah memiliki sesuatu yang lebih special daripada mereka yang berusaha untuk menjadi sama.
 “Hiburan semata” adalah alasan yang terakhir yang saya dapatkan dari hasil survey saya. Memang sih, kita perlu hiburan. Tapi, bukan berarti kita harus mengolok-ngolok salah satu teman kita kemudian tertawa, dan menjadikannya hiburan? Kalau hanya sekali atau dua kali sih tidak apa, tetapi, kalau setiap hari? Jangan egois! Tertawa itu untuk kesenangan semua orang, bukan cuma kamu saja.
Kamu akan memanggil mereka ‘si lemah’ karena mereka tidak pernah menanggapi sikap mu itu (bullying). Kamu pasti berpikir mereka takut akan kamu. Kalau bukan takut, kamu akan berpikir mereka itu bodoh. Tapi ternyata kamu salah. Mereka bahkan lebih pintar dari kamu. Hukum Karma. Ya, aku yakin kamu pasti tahu. “Kamu akan mendapatkan apa yang kamu pernah berikan”. Mereka mengerti mengenai hal itu, makanya mereka diam dan tidak memperdulikan olok-olokkan kamu. Mereka patut diacungi jempol, karena, bertahan di tengah kata-kata yang menyakitkan itu bukanlah hal yang mudah.
                Bullying itu salah satu aksi pembunuhan karakter, yang merupakan sikap yang tidak mencerminkan kemanusiaan sama sekali. Bagaimana tidak? Bayangkan, setiap hari anak itu diolok-olok oleh lingkungan sekitarnya. Anak itu pun tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk ‘home-schooling’. Kalian tahu ‘kan keadaan di ‘home-schooling’? Hanya ada dia dan guru privat nya. Dengan begitu, dia pasti jarang sekali bersosialisasi dengan anak yang lain. Saat dia untuk keluar dari ‘kandangnya’, dia tidak terbiasa bersosialisasi. Ketika semuanya hancur, siapa yang akan disalahkan?
          Selain pembunuhan karakter, bullying membunuh kebebasan individual, yang tentu saja berdampak negatif untuk perkembangan seseorang. Misalnya, seorang perempuan yang tinggal di daerah tertinggal memiliki niat yang tinggi untuk bersekolah. Namun, lingkungan sekitarnya mengolok-olok dia dengan mengatakan “Perempuan itu sekolah tinggi-tinggi tetap saja masuk dapur!” yang mungkin akan mematahkan semangat dan niat perempuan tersebut. Jika mental perempuan tersebut tidak kuat, hilanglah lagi satu anak bangsa yang bisa membawa nama negeri ini keluar sana.
Bullying juga merupakan penyumbang angka kematian yang besar. Banyak orang yang meninggal karena tidak tahan atas perlakuan lingkungan sekitarnya. Banyak yang putus asa karena merasa dirinya begitu rendah di mata orang lain, dia mengambil jalan pintas, ya, bunuh diri. Selain itu, bullying fisik (yang biasanya banyak terjadi pada saat OSPEK) juga banyak memakan korban.
Lalu, bagaimana cara menghentikan terjadinya Bullying ini? Mari kita bahas mengenai bullying verbal terlebih dahulu. Cara yang paling mudah adalah menghadapi mereka, bukan menghindari mereka. Jangan tanyakan apa mau mereka atau mengapa mereka melakukan hal itu, tapi buktikan bahwa kamu tidak seperti yang mereka bilang. Ketika mereka terus menerus mengolok-olokmu, berdiamlah, ubahlah emosimu menjadi kekuatan untuk membuktikan bahwa kamu tidak seperti kata-kata itu. Menangis? Jangan lakukan itu di depan mereka.
Bagaimana dengan bullying fisik? Cara terbaik adalah dengan menceritakannya kepada pihak yang bersangkutan (Kepala Sekolah, Orang Tua, Wali Kelas, dll). Tidak perlu takut atau malu, ini demi keselamatanmu! Masih ada banyak orang yang menyayangimu, jangan sia-sia kan kesempatan hidupmu yang hanya sekali untuk ‘dibunuh’ oleh para tukang bully itu. Jangan berjalan di tempat yang sepi sendirian, bawalah satu atau beberapa orang, agar jika terjadi apa-apa ada yang bisa membantumu mencari pertolongan. Mulailah mempelajari ilmu bela diri, selain untuk membela diri (bukan untuk balas dendam loh ya), ini juga dapat menjadi nilai tambahmu.

Jika kalian bertanya, apakah saya menulis ini berdasarkan observasi atau pengalaman? Saya menulis ini berdasarkan keduanya. Saya juga pernah mengalami bullying atas alasan yang tidak bisa saya utarakan disini. Awalnya, saya juga menghindari mereka, namun, lama kelamaan saya merasa kalau menghindari mereka tidak akan menyelesaikan masalah ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghadapi mereka, karena menghindari maupun menghadapi mereka kamu sama-sama dipermalukan, bedanya dalam menghadapi kamu tidak terlihat SANGAT LEMAH. Tidak, saya tidak menyarankan untuk membalas mereka. Untuk apa membalas mereka? Lebih baik kita menggunakan energi kita untuk sesuatu yang lebih penting, seperti, mengembangkan diri kita.

DISCLAIMER : Artikel ini awalnya ditulis tahun 2012 dan dipublikasi di majalah sekolah dan direvisi ulang sebagai esai. Saya sangat menyadari masih banyak kekurangan dari esai ini (terutama sumber, dll). Saran dan kritik dapat dicantumkan di bagian kolom komentar. :)

0 comments:

Post a Comment