Wednesday, March 18, 2015

First Semester Impression

Well, it’s been one semester already since September, 1st 2014. Baru aja UAS yang Chitato banget (naik turun gitu deh) selesai, langsung saja tidur 12 jam keesokkan harinya demi membalas hutang tidur kemarin. Satu semester ini sudah memberikan banyak gambaran tentang kehidupan kuliah yang akan gue jalani selama 3 tahun lagi –semoga saja hanya 3.5 tahun. Kali ini gue bakalan share beberapa hal mengenai kuliah dan segala pretelannya.
Semester satu perlu belajar keras kah? Jujur, gue sendiri enggak force myself to study hard semester ini. So far nilai UTS oke sih, belom tau nilai UASnya –mudah mudahan lebih baik dari UTS haha. Banyak anggapan yang beredar kalo semester satu itu waktunya kejar IP, karena di semester selanjutnya bakalan lebih sulit dan bakalan mustahil dapetin IP tinggi. Dan, ada anggapan lainnya yang bilang kalau semester satu harus dinikmati senikmat nikmatnya karena di semester selanjutnya jangan harap bisa curi-curi waktu ketemu gebetan, tugas sudah nunggu duluan sebelum ditunggu gebetan lu!(terutama DKV) Finally, gue memilih option kedua, untuk puas-puasin semester satu gue dengan cari teman sebanyak-banyaknya dari prodi lain, hang-out sana sini, pinjem pr sana sini(jangan ditiru, karena gue akhirnya keteteran waktu UTS dan UAS, haha). Tapi gue ga menyesali pilihan gue ini, karena gue cukup puas dengan pilihan ini. Saran gue buat kalian sih, jangan belajar keras-keras dulu deh, tapi jangan sampai terbengkalai juga-  IP setiap semester itu berpengaruh untuk IPK dan pengambilan SKS tiap semester, bukan kayak rapor SMA yang setelah naik kelas udah ga berpengaruh lagi nilainya untuk kelas selanjutnya ((jadi mirip marketing universitas)).
Kalo gitu semester satu sama kayak SMA dong ya, masih bisa santai? Dibilang sama kayak SMA, itu enggak banget. Dari semester satu, lu mulai diajarin untuk bertanggung jawab atas diri sendiri, mulai nemuin temen temen yang pelit (just like, ada kisi-kisi tapi Cuma buat dia aja sendiri), ga ada yang nagihin lu PR lagi, ga ada remedial lagi -kalau ga lulus satu mata kuliah yah ngulang atau semester pendek. Santainya, bertanggung jawab aja.
Jadwalnya gimana? Banyak free time? This is the only thing I like about college  life, jadwal yang ga sepadet SMA, jadwal disini yang gue maksud adalah jadwal kuliah di kampus aja tanpa embel embel jadwal kerjain tugas HAHA, terkadang istirahatnya sampai 4 jam sampe bikin lo gabut banget di kampus (pengecualian buat yang deket mall). Tapi, yang paling menyebalkan lagi, dosen yang suka ngebatalin kelas sejam sebelum kelas dimulai! Udah sampe kampus, masa mau balik lagi.
Temennya gimana? Asik-asik? Setelah gue kuliah selama kurang lebih 4 bulan ini, gue merasa kalau kampus menampung berbagai macam jenis spesies (HAHA). Temennya dari seantero Indonesia, bahkan, di kampus gue ada yang berasal dari negara lain. Jelas, sifatnya beda-beda, dari budayanya aja udah beda-beda kalo beda kampung. Contohnya aja, gue sama temen gue yang asalnya dari Solo (masih sama-sama P. Jawa), dia strict to the rule banget kalo di Solo. Katanya, dia ga boleh makan sebelum bokap nya makan, kalau dia makan duluan dia bakalan kena semprot bokapnya! Gue disini makan kapanpun perut gue meminta. Bukan kolot, tentu itu hal yang bagus karena itu artinya lu sangat menghargai orangtua lu. Kalau ditanya asik atau enggak, relatif ya. Yang gue temuin sih asik aja. Menurut gue, untuk bisa menemukan yang asik, lu harus coba beradaptasi dengan mereka. Adaptasi dalam hal ini bukan berarti lu harus mengubah diri lu 100%, tetaplah jadi diri lu sendiri tapi cobalah susupi gaya social mereka, cobalah adaptasi dan berusaha fleksibel. Buat yang introvert, bukan ga mungkin lu bisa jadi asik! Asalkan membuka diri sedikit dan berusaha pasti bisa, karena gue orang introvert juga kok hehe, jadi jangan takut ga punya teman! Pilihannya banyak kok di kampus! Pokoknya bertemanlah sama yang mau berkembang bersamaJ
Oh ya, ada satu tips tambahan nih. Menurut gue mempelajari sistem penilaian dan sistem nilai untuk kelulusan juga penting loh. Misalnya kalian mau lulus cum laude, pelajarilah syaratnya apa, supaya kalian bisa menargetkan semester ini mau dapat berapa. Kalo di kampus gue, syaratnya ga boleh dapet C di semua mata kuliah dang a ada mata kuliah yang ulang baru bisa dapet cum laude, nah artinya gue harus berusaha menghindari nilai C itu. Beda kampus beda system loh.
Kayaknya segini dulu deh ya gue ceritanya tentang kehidupan kuliah yang masih seumur toge ini. Buat yang kelas 12 semangat ya ujiannya, label mahasiswa sudah menunggu kalian!

Saturday, January 24, 2015

16 Siswa, 9 Bangku, 1 KELAS

Matahari tidak pernah bosan menyinari sekolah kami. Membawa kehangatan di setiap momen berarti yang telah kami lewati, menyinari  berjuta warna-warni pelangi dalam tawa dan sedih. Kelas kami memang kelas yang penuh dengan cerita, bahkan satu buku pun mungkin tak cukup untuk melampiaskan seluruh kejadian yang telah terjadi di rumah kedua kami, bersama keluarga kami, bersama ibu kami, Bu Hotnida, di sebelah perpustakaan, XII IPA.
 ‘Tiada hari tanpa kekonyolan’ sepertinya cocok untuk kelas ini. Bahkan, Rudi yang kelihatannya diam-diam di ujung kiri sana, malah terkadang menambah gelak tawa seisi kelas dengan tingkah konyolnya yang tidak biasa. Maklum, Rudi ini termasuk anak kepercayaannya Bu Mey, jadi disebut tidak biasa. Beda lagi dengan teman sebangku Rudi, Dennis. Si Paman Kelas ini –dia yang tertua dikelas lho, memilih untuk ikut tertawa, namun, terkadang ia memilih untuk diam ketika seisi kelas mulai melontarkan gurauan tentang dia dan Pamela.
Dibelakang Hyung Rudi dan Aju-ssi Dennis, ada Bryan si pecicilan parah dan Aldi, yang aktif banget dikegiatan kelas. Ada hal yang bertolak belakang dari pasangan semeja ini, Aldi, biasanya yang melontarkan gurauan, sedangkan Bryan, yang sering menjadi sasaran gurauan. Disamping itu semua, mereka berdua berbakat di bidang basket, bahkan sering menjuarai perlombaan basket.
Dibelakang Aldi dan Bryan, ada Devin yang ngakunya GDragon dan Octavius a.k.a ‘Iyut’ yang jago ngegombal. Pasangan semeja ini sama-sama menggeluti dunia taekwondo. Mereka juga mempunyai kebiasaan yang sama, yakni, menarik temannya dari bangku sampai jatuh, kemudian, memanggil seisi kelas untuk menggerogoti ‘mangsa’nya. Mereka juga punya cita-cita yang besar. Iyut, masih berusaha keras menjadi dokter, walaupun sempat diledek tentang cita-citanya itu. Devin mewujudkan cita-citanya untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan les setiap hari minggu. Oh ya, penghuni baris terakhir ini merupakan penghuni kelas yang terusu. Hampir di setiap situasi mereka bercanda, hingga lupa waktu, kapan boleh bercanda dan kapan harus serius.
Irencia dan Listiani mengisi bagian barat Devin. Mereka berdua dianggap yang paling muda di kelas. Iren memang sudah berumur 17, tapi, wajahnya yang baby face dan postur tubuhnya yang imut-imut membuat ia terlihat beberapa tahun lebih muda, ditambah lagi tingkahnya yang masih labil, seringkali mengundang gelak tawa. Beda lagi dengan Listiani yang memang paling muda di kelas ini. Penggemar JB dan 1D ini seringkali menggambar hal-hal aneh, mirip seperti coret-coretan monster –dia sering menyebutnya doodle. Si pembuat doodle ini berlaku polos, sehingga, semua orang ragu untuk menceritakkan rahasia penting kepadanya.
Di depan mereka, ada dua wanita perkasa, Firsty dan Pamela. Pasangan sejoli yang baru anniversary bulan Agustus kemarin ini sering menjadi sorotan kelas. Biasanya, dikarenakan Pamela, si Bunga Kelas, yang sedang digombali Iyut atau Aldi. Si Bunga Kelas biasanya menanggapinya dengan wajah datar, namun, ada kalanya ia menanggapi mereka dengan gurauan singkat juga. Si wajah orang Jepang yang jago Bahasa Inggris ini juga sering ikut meramaikan kelas, bahkan, tak jarang ia ikut-ikutan ngegombalin Pamela. Pasangan sejoli ini juga punya hobi yang sama, desain. Bedanya, Pamela lebih suka mendesain diatas kertas, sedangkan Firsty suka mendesain di atas komputer dan kertas. Namun, mereka berdua sama-sama memilih fakultas yang sama, yaitu Desain Interior.
Nah, ada lagi yang duduk didepan wanita superpowernya. Ada Fernando a.k.a Nando dan Felix sumber kekonyolan kelas. Sama seperti Devin dan Iyut yang tidak ingat waktu dalam hal bercanda, pasangan ini juga demikian. Meskipun mereka duduk di depan, mereka tidak pernah kehabisan kata-kata dalam hal gurauan. Oh ya, mereka berdua sama-sama pernah dihukum karena hal kecil. Nando, pernah diberi tugas menulis hasil dari  di kertas folio karena tidak bisa mengerjakan soal Fisika. Sedangkan Felix, pernah disuruh menjelaskan ulang di depan kelas mengenai Kuadaran lantaran tidak bisa menjelaskan ke guru. Hal-hal tersebut bukan bermaksud untuk mempermalukkan mereka, tetapi untuk mendidik mereka.
Disebelah timur Felix, ada Ricky dan Victor. Ricky adalah anak yang sangat berbakat dalam hal menulis, terutama puisi. Bahkan, dia sempat melontarkan cita-citanya untuk menjadi penulis ketika ditanya tentang cita-cita. Ricky memiliki kulit tereksotis di kelas sehingga membuat Vicky iri dan sering kali melontarkan kata-kata rasist kepadanya. Walaupun demikian, Ricky cukup dewasa untuk dapat memakluminya, karena Vicky berlaku demikian ke seisi kelas. Lain Ricky, lain lagi Victor. Meskipun namanya merupakan nama terakhir diabsen, tapi dia merupakan yang pertama di kelas. Percaya atau tidak, dia mungkin adalah satu-satunya orang di kelas yang menyukai Matematika. Maka, tak heran kalau dia bisa menyelesaikan persoalan matematis dalam waktu yang singkat. Victor sering kali disebut sebagai Sensei di kelas.
Bagian selatan Ricky, diisi oleh Vicky dan Nico, duo yang tidak pernah cocok. Bahkan, mereka sering bertengkar untuk hal-hal kecil, misalnya, pembagian tempat duduk, meja yang tidak bisa diam, pulpen yang hilang, dll. Vicky yang memiliki sifat SUPER ISENG kerap menganggu ketenangan Nico. Dia akan berhenti iseng hanya ketika komplotan GTA nya yang berisi Felix, Dennis, dan Rudi datang. Disamping ketidakcocokkan mereka, mereka memiliki hal yang sama, yaitu sama-sama memiliki tulisan tangan yang mirip gambar dan juga kecintaan terhadap gadget.
Di arah tenggara Vicky, ada sebuah pintu keluar yang akan menuntun kita keluar dari kelas yang sudah kita anggap seperti rumah ini, mengakhiri segala peristiwa yang kami lewati, menyimpan sebuah kenangan di dalam ruangan ini. Inilah sebutir kisah dari kelas 12 IPA. Kami berharap, suatu saat nanti, ketika kami membaca cerita ini, semua yang terlibat telah menjadi si sukses yang berguna bagi dunia.